<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4600081710192398078</id><updated>2012-02-16T10:04:21.529-08:00</updated><title type='text'>PERNIKAHAN DINI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ginis-gian.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4600081710192398078/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginis-gian.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>GIAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05119349805296810022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4600081710192398078.post-2189286265476413363</id><published>2007-12-26T04:57:00.000-08:00</published><updated>2007-12-26T05:01:44.321-08:00</updated><title type='text'>MBA( married by accident)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pernikahan Dini             Solusi Seks Pranikah?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;”MAH, saya             hamil,” ujar seorang remaja putri yang baru kelas 3 SLTP. Spontan sang ibu tersentak             kaget, dan menghentikan kendaraannya. Dengan nada setengah tidak percaya, ia bertanya             kepada putrinya, ”Ade bilang apa?” ujarnya dengan nada tinggi.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;            &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;i&gt;Pikiran ibu tiga anak ini langsung menerawang, membayangkan pergaulan putrinya dengan             teman-teman sebayanya yang begitu intim. Ia juga sering pulang terlambat, dengan alasan             susah kendaraan. Padahal mungkin saja itu hanya alasan untuk menutupi kegiatan luar             sekolahnya, karena sempat kepergok tetangga ia sedang jalan-jalan dengan teman             laki-lakinya. ”Pantas belakangan dia agak terlihat aneh,” gumamnya.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;ITULAH sepenggal realitas sosial yang dihadapi masyarakat saat ini. Dorongan seksual             remaja yang tinggi karena didorong oleh lingkungan yang mulai permisif dan nyaris tanpa             batas. Pada akhirnya, secara fisik anak bisa lebih cepat matang dan dewasa, namun psikis,             ekonomi, agama, sosial, maupun bentuk kemandirian lainnya belum tentu mampu membangun             komunitas baru bernama keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Seperti diberitakan ”PR” sebelumnya (29/7), sedikitnya 38.288 remaja di             Kabupaten Bandung diduga pernah berhubungan intim di luar nikah atau melakukan seks bebas.             Jumlah ini berdasarkan hasil &lt;i&gt;polling&lt;/i&gt; ”Sahabat Anak Remaja (Sahara) Indonesia &lt;i&gt;Foundation&lt;/i&gt;”             yang terungkap pada seminar dan lokakarya ”Kependudukan dan Kualitas Remaja” di             Banjaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Hasil &lt;i&gt;polling&lt;/i&gt; tersebut merupakan realitas kehidupan remaja di Kabupaten Bandung.             Berdasarkan hasil &lt;i&gt;polling&lt;/i&gt; lewat telefon itu, 20% dari 1.000 remaja pernah melakukan             seks bebas. Diperkirakan 5 sampai 7%-nya remaja pedesaan. Jumlah remaja di Kabupaten             Bandung mencapai 765.762, sehingga diambil kesimpulan jumlah remaja yang melakukan seks             bebas antara 38.288 hingga 53.603 orang. Hasil itu terjadi pada remaja di daerah perkotaan             seperti Soreang, Banjaran, dll. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dari hasil &lt;i&gt;polling&lt;/i&gt; juga diketahui, sekira 200 remaja putri yang melakukan seks             bebas, 50% atau 100 remaja hamil. Ironisnya, 90 dari 100 remaja yang hamil itu melakukan             aborsi. Meski hasil itu belum mewakili remaja di Kabupaten Bandung, namun yang harus             dicermati, fenomena seks bebas ini sangat memprihatinkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bila dikaji lebih dalam lagi, fenomena ini akan beruntut pada masalah sosial lainnya.             Sebut saja kehamilan yang tidak diinginkan/ ketidaksiapan pasutri untuk membentuk keluarga             baru yang ujungnya berakhir dengan perceraian, tindak kriminal aborsi, risiko PMS             (penyakit menular seks), serta perilaku a-sosial lainnya. Tidak menutup kemungkinan             pekerja seksual juga muncul dari ”budaya kebablasan” ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Temuan lain sebuah survei yang dilakukan LDFEUI &amp;amp; NFPCB tahun 1999, terhadap 8.084             remaja putra dan putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten di empat provinsi (Jawa Barat,             Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46,2% remaja masih menganggap perempuan             tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini lebih             banyak diyakini remaja putra (49,7%) dibandingkan remaja putri (42,3%).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dari survei yang sama didapatkan, hanya 19,2% remaja yang menyadari peningkatan risiko             untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 51% mengira mereka akan             berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;** &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;KIAN maraknya seks bebas di kalangan remaja dan dewasa muda, maupun meningkatnya angka             aborsi setidaknya menjadi indikator tingkat pergaulan bebas sudah berada pada tahap             mengkhawatirkan dan harus segera dipikirkan solusinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Salah satu jalan, walaupun bukan yang mutlak adalah menikahkan pasangan remaja di usia             dini. Artinya, bagi mereka yang telah mantap dengan pasangannya, minimal berpenghasilan             atau mempunyai usaha untuk keluarganya, dianjurkan untuk segera meresmikannya dalam sebuah             ikatan pernikahan. Sekalipun keduanya masih menempuh pendidikan atau di bawah usia ideal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;”Hal ini untuk menghindari dampak buruk dari keintiman hubungan lawan jenis,”             kata Djuariah Utja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pendapat tersebut mungkin ada benarnya. Namun bukankah pernikahan itu tidak hanya             sekadar ijab qabul, dan menghalalkan yang haram. Melainkan kesiapan moril dan materil             untuk mengarungi dan berbagi apapun kepada pasangan tercinta. Jadi bagaimana akan menikah             di usia muda bila bekal (moril maupun materil) belum cukup?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;”Memang, dalam Islam dianjurkan untuk memudahkan urusan pernikahan dan menghambat             perceraian. Namun, bukan berarti pernikahan dimudah-mudahkan, tanpa ada syarat dan             ketentuan yang jelas. Untuk itu perlu adanya lembaga bimbingan bagi pasangan yang ingin             segera cepat menikah,” kata Mimin Aminah, narasumber konsultasi keluarga sakinah yang             biasa mengudara di MQ FM ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Hal itu harus disadari, lanjutnya, jangan sampai seseorang menikah karena alasan             seksual semata, sebab menikah itu harus benar-benar dengan persiapan ilmu, iman dan amal             saleh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Artinya bukan ”indahnya-indahnya” yang dikedepankan, tetapi apakah pernikahan             itu punya visi dan misi yang jelas? Kalau menikah di usia dini dengan modal takut             terjerembab, apa iya bisa nyelesaikan masalah? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;”Pernikahan harus dilakukan dengan landasan Islam dan ilmu yang memadai. Makanya,             siapkan segalanya sejak dini, kalau sudah mulai &lt;i&gt;baligh&lt;/i&gt; harus mulai mandiri. Rasul             saja belajar dagang dari usia 12 tahun dan matang ketika usia 25 tahun. Kita banyak yang             terlambat, 25 tahun baru bisa mandiri,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Walaupun Rasul mencontohkan dengan menikah di usia 25 tahun, namun jangan usianya yang             dilihat, akan tetapi lihat tingkat kematangan dan kemampuannya bertanggunjawab pada lawan             jenisnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;”Nikah sambil sekolah atau kerja sambil sekolah &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; tidak buruk? Di sinilah             orang tua harus mengajarkan anak supaya bisa mandiri di usia &lt;i&gt;baligh&lt;/i&gt;. Jangan hanya             terus sekolah tanpa kemandirian. Jadinya sahwat &lt;i&gt;udah&lt;/i&gt; ke mana, kemandirian belum             ada, &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; bahaya? Mari kita siapkan generasi yang cerdas, mandiri, dan berani pada             usia yang dini (&lt;i&gt;baligh&lt;/i&gt;),” sambung Djuariah Utja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selama ini, lanjutnya, masyarakat masih terjebak oleh ”keharusan” bekerja di             kantoran. Padahal siapapun bisa berusaha dan berpenghasilan tanpa terikat oleh rutinitas             perkantoran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Selain pernikahan dini, kata Djudju, menghindari seks pranikah di kalangan remaja dan             dewasa muda juga bisa ditempuh dengan cara lain. Sebut saja dengan pendidikan seksual yang             sehat dan bertanggung jawab, pemahaman alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan setelah             pernikahan —bukan untuk pasangan yang belum menikah—, pembatasan dan &lt;i&gt;social             control&lt;/i&gt; dalam pergaulan laki-laki perempuan yang harus diperketat lagi oleh keluarga             dan masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Budaya Sunda juga memiliki perangkat yang bisa membentengi bila benar-benar ditumbuhkan             kembali. Sebut saja budaya &lt;i&gt;numas&lt;/i&gt; —membagi-bagikan daging setelah mendapat             kabar dari keluarga laki-laki bahwa istrinya masih gadis. Budaya ini salah satu cara untuk             mengedepankan lagi pentingnya virginitas yang harus dijaga hingga memasuki gerbang             pernikahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;”Pernikahan dini harus dipandang buruk dan berisiko, tapi bila kekhawatiran lebih             tinggi dan tidak ada solusi yang lebih baik, asalkan mau bertanggung jawab, ditunjukan             dengan bisa mandiri dan berpenghasilan, sah-sah saja dilakukan,” kata Djudju.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Orang tua harusnya bangga bila anak perempuannya cepat matang dan siap nikah. Itu             tandanya ia bisa mendidik dengan baik. Ada yang melamar berarti ada yang berminat (laku,             red).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4600081710192398078-2189286265476413363?l=ginis-gian.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ginis-gian.blogspot.com/feeds/2189286265476413363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4600081710192398078&amp;postID=2189286265476413363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4600081710192398078/posts/default/2189286265476413363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4600081710192398078/posts/default/2189286265476413363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ginis-gian.blogspot.com/2007/12/mba-married-by-accident.html' title='MBA( married by accident)'/><author><name>GIAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05119349805296810022</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
